Entertaiment

Waspadai Bahaya Pacaran di Usia Remaja

Pacaran sudah tidak asing lagi di kalangan remaja. Bahkan pacaran sudah menjadi budaya dikalangan mereka. Tidak hanya yang duduk di bangku SMP dan SMA saja, pada kalangan anak sekolah dasar pun sudah terjerumus. Permasalahannya ialah pacaran sendiri sepertinya menjadi kebanggaan di kalangan mereka. Padahal ada bahaya pacaran di usia remaja. Belum lagi melihat banyak media, terutama sinetron yang mengekspos tentang perlaku pacaran tersebut. Terlebih lagi banyak sinetron yang tidak sungkan mempraktikan adegan-adegan yang pantas untuk ditampilkan pada anak-anak dan remaja.

bahaya pacaran di usia remaja

Sponsor: dr rochelle skin expert

Kondisi ini tentu membuat miris, sebab telah merusak perkembangan remaja. Salah satu indikasinya adalah marak beredar video sex bebas yang pelakunya siswa SMP dan SMA. Bahwa seharusnya bangsa memiliki generasi-generasi penerus yang bisa dibanggakan karena prestasi, tapi mereka melakukan perbuatan yang sangat memalukan.

Apa itu pacaran?

Beberapa definisi menurut para ilmuwan :

  1. Menurut Bowman (1978) pacaran adalah kegiatan bersenang-senang antara pria dan wanita yang belum menikah, dimana hal ini akan menjadi dasar utama yang dapat memberikan pengaruh timbal balik untuk hubungan selanjutnya sebelum pernikahan di Amerika.
  2. Menurut Saxton (dalam Bowman, 1978), pacaran adalah suatu peristiwa yang telah direncanakan dan meliputi berbagai aktivitas bersama antara dua orang (biasanya dilakukan oleh kaum muda yang belum menikah dan berlainan jenis).

Dari beberapa definisi ilmuwan tersebut, bisa disimpulkan definisi pacaran yaitu suatu hubungan atau masa penjajakan satu sama lain yang ini ditujukan untuk memilih pasangan hidup atau menuju pernikahan. Dimana maksudnya ada dua orang yang ini saling memahami satu sama lain (ada perbedaan karakter) dan juga ada proses komunikasi diantara keduanya.

Bagaimana remaja itu sendiri?

Sri Rumini & Siti Sundari menyebutkan masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/ fungsi untuk memasuki masa dewasa. Yang mana dibedakan menjadi tiga tahapan, yaitu 12 – 15 tahun = masa remaja awal, 15 – 18 tahun = masa remaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun = masa remaja akhir

Pada aspek biologis, Freud menjelaskan bahwa seseorang berada pada tahap genital. Tahap genital terjadi perubahan fisik yang sangat besar dan munculnya dorongan seks. Energi seksual yang pada masa pra remaja bersifat laten kini hidup kembali. Dorongan seks dicetuskan oleh hormon-hormon androgen tertentu seperti testosteron yang selama masa remaja ini kadarnya meningkat.

Dari penjelasan diatas, usia remaja mengalami masa pubertas dengan adanya perubahan organ seksual. Dan juga pada saat itu, dorongan akan seksualnya sangat tinggi.

Sementara pada aspek psikologis, dijelaskan menurut Gunarsa (1989) merangkum beberapa karakteristik remaja yang dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada diri remaja, yaitu:

  1. Kecanggungan dalam pergaulan dan kekakuan dalam gerakan.
  2. Ketidakstabilan emosi.
  3. Adanya perasaan hampa gegara perombakan pandangan dan petunjuk hidup.
  4. Adanya sikap menentang dan menantang orang tua, karena karakter remaja yang mau menang sendiri (egois).
  5. Pertentangan di dalam diri remaja kerap menjadi pangkal/sumber penyebab pertentangan-pertentang dengan orang tua.
  6. Kegelisahan karena banyak hal diinginkan tetapi remaja tidak sanggup memenuhi semuanya.
  7. Senang bereksperimentasi.
  8. Senang bereksplorasi.
  9. Mempunyai banyak fantasi, khayalan, dan bualan.
  10. Kecenderungan membentuk kelompok dan kecenderungan kegiatan berkelompok

Bahaya Pacaran di Usia Remaja

  • Tidak ada proses kedewasaan (menjadi pribadi yang lebih emosional)

Dalam perkembangan emosi remaja dijelaskan, bahwa remaja yang berkembang di lingkungan yang kurang kondusif, kematangan emosionalnya terhambat. Sehingga sering mengalami akibat negatif berupa tingkah laku “salah suai”, misalnya :

  • Agresif : melawan, keras kepala, berkelahi, suka menggangu dan lain-lainnya
  • Lari dari kenyataan (regresif) : suka melamun, pendiam, senang menyendiri, mengkonsumsi obat penenang, minuman keras, atau obat terlarang
  • Waktu yang terbuang sia-sia

Dalam realitasnya, remaja yang mengalami kegagalan dalam pacaran seringkali mengalami kesedihan atau yang sekarang diesbut dengan kegalauan. Itu karena pada usia remaja memilik emosi yang labil.  Sehingga akibat pada remaja yang galau, banyak waktu yang terbengkalai. Tidak focus belajar, tidak semangat sekolah, merasa hampa, dls.

  • Tidak tepat dalam menemukan jati diri

Remaja merupakan waktu yang tepat untuk menggali potensi diri (minat dan bakat). Ketika remaja hanya focus pada pacaran, maka potensi diri tersebut tidak berkembang dengan baik. Berpotensi besar akan salah dalam memilih masa depannya.

  • Rawan sex bebas

Ini merupakan dampak yang paling bahaya. Dijelaskan sebelumnya bahwa pada masa remaja memiliki dorongan seksualnya semakin besar. Remaja yang selalu ingin mencoba hal-hal yang baru dan emosinya yang labil berpeluang besar dalam pacaran hanya mengedepankan hawa nafsu. Sudah banyak pasangan remaja yang melakukan sex bebas. Itu karena mereka sulit dalam mengendalikan dorongan seksualnya.

Dari beberapa analisa di atas, pacaran memiliki dampak negative yang cukup besar. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa pacaran memiliki efek positif, yaitu memberikan motivasi dalam hal belajar. Namun sebetulnya, untuk memberikan motivasi belajar tidak harus dengan pacaran. Selama kita mempunyai cita-cita, selama itu pula kita mempunyai semangat yang tinggi dalam studi. Motivasi pada pacaran akan ada hanya selama hubungan pacaran baik-baik saja. Tapi, jika tidak baik, yang ada kegalauan melanda berhari-hari.

Sebaiknya kita bijak dalam bertindak. Semua sesuatu pasti ada waktu yang tepat. Sehingga alangkah lebih baiknya jika usia remaja digunakan untuk menggali potensi diri, manfaatnya akan jauh lebih besar dibandingkan dengan pacaran.

 

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Comments

comments

To Top