Tips & Trik Parent

Tips Mengajarkan Matematika Pada Anak Sejak Usia Dini

Tips Mengajarkan Matematika Pada Anak

Dalam proses belajar, banyak hal yang dialami oleh manusia, mulai dari lahir hingga berusia dewasa dan menua, mulai dari yang paling mudah hingga yang susah. Proses belajar dalam hidup akan senatiasa terus menerus dialami oleh manusia, yang pada akhirnya bertujuan mendapatkan jalan keluar atau solusi atas apa yang dihadapinya. Saat seorang anak memasuki masa usia belajar, utamanya menempuh pendidikan formal, diharapkan peran orang tua hadir mendampinginya dari sejak dini untuk membantu proses belajarnya. Harapannya, dari setiap hal yang dilakukan dan dilampaui anak semuanya terpantau oleh orang tua. Pantauan orang tua terhadap apa saja yang dilihat dan didengarkan oleh anak akan menjadi filter bagi anak tentang hal-hal yang tidak patut diketahuinya berhubungan dengan batasan umur dan perkembangan cara berpikirnya.

Keberhasilan seorang anak saat belajar ditentukan pula oleh peran dan perhatian orang tua. Apalagi jika si anak sudah memasuki fase sekolah, penting sekali pendampingan orang tua terhadap semua hal yang dialaminya saat proses sekolah. Orang tua harus tahu bagaimana perkembangan akademik, psikologis serta kondisi fisik anak saat belajar. Pengaruh guru, teman sebaya dan lingkungan akan memberikan andil dalam kehidupannya. Belajar di sekolah memberikan pengalaman kepada anak cara bergaul dan bersosialisai serta utamanya menyerap ilmu pengetahuan yang dipelajari secara formal, yang manfaatnya nanti bisa berhubungan dengan kariernya saat dewasa. Ada beberapa mata pelajaran yang harus disantap sebagai menu sehari-hari di sekolah, baik itu disajikan di dalam atau pun di luar kelas oleh guru pengampunya.

Terkadang, saat bersekolah anak akan menyukai mata pelajaran tertentu, dan malas atau membenci mata pelajaran yang lain. Satu di antara mata pelajaran yang paling umum dipelajari dan sering dikeluhkan di sekolah adalah matematika. Beberapa anaka merasakan kesulitan saat mempelajari ilmu matematika ini. Namun, sebenarnya tidak semua anak mengalami kesulitan dalam mempelajari ilmu hitung ini. Agar seorang anak lebih terbantu saat mempelajarinya, orang tua harusnya memiliki kesadaran terhadap kesulitan belajar anak pada mata pelajaran tertentu. Secara umum, sudah sewajarnya jika orang tua bisa mengikuti perkembangan cara berpikirnya, termasuk senantiasa berusaha menyediakan waktu berkualitas terutama saat belajar di rumah. Untuk matematika, orang tua bisa membantu anak melalui cara-cara tertentu yang membuat anak nyaman saat mempelajarinya di rumah bersama orang tuanya. Mungkin orang tua harus mempelajari tips dan trik yang memudahkan anak untuk bernalar ilmu matematika dengan mudah.

Cara yang bisa dilakukan orang tua untuk mengajarkan matematika pada anak, salah satunya dengan menggunakan anggota tubuh, contohnya dengan menggunakan jari kaki dan jari tangan saat berhitung, menunjukkan jumlah mata, menunjukkan jumlah telinga, dan lain-lainnya. Harapannya matematika bisa dipelajari secara riil dengan melihat wujud bendanya secara langsung. Cara lain yang bisa digunakan adalah menggunakan alat peraga, bisa dengan membuat sendiri atau dengan membelinya. Contohnya mempelajari bangun ruang dengan menggunakan bola, membuat sendiri berbagai macam bentuk bidang datar seperti bentuk segitiga, bujur sangkar, atau lainnya.

Mempelajari matematika bisa pula memanfaatkan alat mainan. Contoh penerapannya adalah pada penggunaan mainan lego. Lego hadir dengan banyak bentuk dan warna yang menarik, sehingga anak bisa tertarik mempelajari bentuk bidang saat menggunakan permainan ini. Orang tua bisa mengajak anak untuk bermain bersama serta melakukankomunikasi melalui tanya jawab. Media belajar berhitung menggunakan maianan lego bisa memanfaatkan bagian atas lego, di mana di bagian atasnya terdapat bulatan-bulatan kecil yang  timbul. Pembelajaran matematika yang diberikan orang tua melalui aktivitas bermain, akan memberikan banyak keuntungan. Di samping anak lebih mudah menyerap dan memahami materi yang diajarkan, seorang anak juga tidak akan merasa jenuh. Hal ini karena kondisi otak yang lebih santai dalam menerima penerapan ilmu matematika, pastinya mudah dipahami secara visual, dan akhirnya otak lebih mudah pula mencerna informasi materi matematika yang masuk.

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Comments

comments

To Top