Tips & Trik Parent

Perlukah Memaksa Anak Ikut Les Dan Ekskul?

perlukah memaksa anak ikut les dan ekskul

Banyak orang tua yang memaksa anaknya mengikuti ekstra kulikuler dan bimbingan belajar atau les. Namun dampaknya tak sedikit pula anak yang mengalami stress berat dan kecemasan. Alasannya sederhana, anak baru memahami konsep teori dan sedikit lebih lambat daripada temannya. Ditambah ujian sekolah yang mendadak menghampiri, membuat kecemasan anak mulai tiba. Jadi sebenarnya perlukah memaksa anak ikut les dan ekskul?

Sponsor: halojasa

Keinginan orang tua untuk membuat anaknya cerdas dan berada di rankin atas membuat para orang tuannya mendaftarkan anaknya ke berbagai les dan bimbel. Pada dasarnya, ada banyak keuntungan yang bisa didapat dengan mendaftarkan anak ke tempat-tempat les salah satunya mendorong anak sukses pada bidang akademisnya.

Selain itu, keinginan orang tua memasukkan anaknya ke bimbingan belajar didasarkan pada niat yang baik. Hanya saja apakah sejalan dengan keinginan dan minat anak? Memberi pola asu seperti ini terkadang memang bisa memberi anak kesempatan untuk unggul dalam pendidikan serta membantu anak mencapai tujuannya. Aka tetapi kembali lagi, bahwa gagasan ini hanya memiliki keinginan kuat untuk mencapai usaha dengan maksimalnya. Selain itu, tak semua anak bisa bekerja dengan baik di bawah tekanan termasuk saat mengikuti les atau ekskul.

Kecemasan orang tua akan prestasi anak yang menurun memang dirasa suatu tekanan tersendiri bagi orang tua. Mereka khawatir bahwa anak nantinya akan tertinggal dalam dunia kerja yang sangat kompetitif. Namun bila anak seolah dirajam oleh tekanan berbagai sisi justru hanya akan anak kelelahan, cemas, dan rasa rendah diri. Anak pun merasa terus berada di bawah pengawasan yang konstan sehingga ia menganggap dirinya tidak cukup pandai.

Ditambah kesibukan sekolah, les atau ektra kulikuler justru bisa mengancam rasa kepercayaan diri anak. Sebab tidak semua kepribadian anak condong pada dorongan sementara banyak orangtua lupa akan perasaan yang muncul pada anak-anak mereka.  Hasilnya bukan hanya nilai akademisnya yang turun juga dalam hal kesejahteraan. Jadi, membebani anak dengan jadwal harian yang begitu banyak baik ekstrakurikuler maupun les bisa jadi tak memberikan anak untuk bernapas dan bebas. Alhasil, kepandaian anak justru tidak bisa berkembang secara alamiah karena rasa cemas dan tertekan sepanjang waktu.

Contoh kasus pada anak yang senang dengan sepak bola bisa berkembang apabika diberi tekanan seperti latihan dan permainan. Tetapi di sisi lain, stress juga bisa membuat anak kewalahan jika tak bisa
ditanggulangi dengan baik oleh dirinya atau orang lain. Ditambah lagi bakat anak pada permainan sepak bola bisa hilang jika ia juga mendapatkan empat atau lima ekskul lainnya dalam waktu bersamaan.

Perlukah Memaksa Anak Ikut Les Dan Ekskul?

  • Dampak psikologis dan biologis

Kecemasan dapat menghambat kesuksesan anak untuk belajar dengan baik serta menghambat naluri bermainnya. Lain hal dengan belajar akan lebih optimal bila berada dalam situasi yang menyenangkan bagi anak. Memaksakan anak untuk les atauengikuti ekskul bisa mengubah cara belajar menjadi sebuah pekerjaan. Seperti layaknya guru yang menganggapnya sebagai tugas, “pekerjaan rumah” yang harus diselesaikan sebelum anak bisa beristirahat. Secara biologi, belajar harus bisa berdampak positif pada tumbuh kembang anak dan bukan menjadi sebuah kerja. Jika terlalu berada pada zona tersebut justru akan berkaitan dengan depresi, kemarahan, kecemasan, kekosongan jiwa, keraguan diri hingga perilaku anak yang merugikan seperti kecenderungan bunuh diri.

  • Anak sukses di bawah tekanan menanggung banyak beban

Pernahkan Anda membayangkan bagaimana hidup anak bila orang tua terus menuntut yang terbaik shingga ia berada dalam tekanan? Semua itu sebenarnya tergantung pada emosi anak, kedekatan antar keluarga, dan pola pengasuh dari figur lainnya. Memberikan budaya perfeksionisme bisa berakibat pada kekecewaan bila anak berada dalam kondisi “gagal”. Kemungkinan anak cenderung membutuhkan pertolongan karena merasa terjebak dengan title “anak berbakat” demi menghindari rasa malu saat nilai ujiannya rendah. Meski terjebak, anak tak bisa mengakui jika nilainya buruk dan lebih memilih “mati” daripada harus mengecewakan orangtua. Menurut studi konseling di Kansas State University pada tahun 1988-2001 pada 13.257 siswa mengungkap bahwa tingkat depresi di kalangan mahasiswa meningkat dua kali lipat, sedangkan jumlah siswa yang bunuh diri tercatat tiga kali lipat lebih tinggi.

  • Fakta orangtua yang menggelontorkan uang banyak untuk les bisa mengorbankan performa akademis anak

Menurut studi di Amerika Serikat, banyak para orangtua rela menghabiskan uang banyak untuk mempersiapkan anaknya masuk ke perguruan tinggi. Namun hasilnya justru membuat performa nilai akademik anak cenderung lebih buruk dari yang diharapkan. Studi lain oleh profesor sosiologi dari University of California, Merced, Laura Hamilton, juga demikian jika banyaknya finansial yang orang tua keluarkan bisa berkaitan dengan penurunan nilai akademis mahasiswa. Banyak anak yang merasa terbebani karena orang tua harus memikirkan biaya sekolah, les, atau ekstra lainnya. Namun ada juga anak yang biaya pendidikannya ditanggu oleh orangtuanya justru membuat anak berpesta dan bukannya belajar sehingga merusak kinerja akademisnya.

perlukah memaksa anak ikut les dan ekskul

 

Jadi ap yang harus dilakukan sebagai orangtua?

Berikan anak waktu istirahat, waktu berkumpul, waktu untuk bersantai, curhat, bermain, dan sesekali jalan-jalan bersama temannya. Kemudian jangan terlalu keras mendorong anak untuk jadi sempurna. Sebaliknya berikan anak kasih sayang, perasaan aman dan terjamin dari hubungan yang kuat, bukan dari kekuatan fisik dan emosional seperti tekanan dan uang sehingga membuat anak menjadi sosok yang tidak mereka inginkan, memberi dukungan, dan semangat positif yang bisa mendorong anak untuk belajar di hari ini dan berikutnya.

Menurut Nadine Kaslow, PhD, profesor psikiatri dan ilmu perilaku di Emory University memberi saran untuk para orangtua yang mendorong anak-anaknya ikut les selama enam minggu. Jika selama enam minggu anak tak memiliki rasa antusias maka jangan paksa ia dan berikan kesempatan anak untuk fokus pada kegiatan yang ia sukai misalnya jika anak senang bermain musik bisa pilihkan ia guru musik dan masukkan anak di eskul musik. Dengan begitu anak bisa melakukan hal lebih baik sesuai yang ia senangi. Paling utama adalah memilih tempat bimbingan belajar yang sudah terpecaya dan membuat anak senang.

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Comments

comments

To Top