Inspiration

Meniru Motivasi Menulis dari Asma Nadia: Berbagi Kebaikan Melalui Buku

Siapa yang tidak kenal Asma Nadia? Asma nadia dikenal dengan profesinya sebagai penulis. Bunda Asma—begitu sapaan dari para pembaca—lahir pada tanggal 26 maret taun 1972 di Jakarta. Belaiu mulai tertarik pada dunia tulis menulis saat pertama kali menciptakan lagu di sekolah dasar. Semenjak itulah bunda Asma mulai aktif menciptakan karya: cerpen, puisi, dan berbagai resensi di dunia media sekolah. Asma Nadia bersekolah di SMA 1 Budi Utomo, lalu melanjutkan kuliah di Intitut Pertanian Bogor Fakultas Teknologi Pertanian. Beliau dikenal aktif dalam menulis. Lantas apa motivasi menulis dari Asma Nadia? Yang membuatnya tidak berhenti menulis sampai sekarang.

Motivasi menulis dari Asma Nadia

Sponsor: pemutih wajah

Asma Nadia pun pernah menjadi salah satu dari 35 penulis dari 31 negara yang diundang sebagai penulis tamu dalam Iowa International Writing Program. Selama perjalanan dan berada di sana Asma sempat berbagi tentang Indonesia. Beliau juga mengisahkan perjalanan kreatifnya dalam menulis bersama pelajar dan mahasiswa serta kaum usia tua di Amerika Serikat. Bahkan bukan hanya sebagai pemenuhan undangan membaca cerpen yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, karya dari Asma Nadia ikut terpilih untuk ditampilkan pada sebuah adaptasi pentas teater yang di selenggarakan di sana, Lowa. Dalam pentas tersebut beliau berkolaborasi dengan aktor tunarungu asal Amerika Serikat

Bunda Asma Nadia bisa dibilang adalah penulis yang sedang naik daun karena beberapa bukunya yang sempat difilmkan, yaitu “Emak Ingin Naik Haji”, “CHSI” (saat ramadhan kemarin ditayangkan), dan “Asalamualaikum, Beijing” yang saat ini sedang diputar filmya di bioskop-bioskop terdekat. Ternyata, ibu satu anak ini adalah salah satu penulis buku best seller. Tidak tanggung-tanggung, sudah sebanyak 49 buku best seller yang ditulisnya, baik fiksi dan juga non fiksi. Tidak hanya bukunya yang best selling, Asma Nadia juga cukup banyak mendapatkan penghargaan dari majalah islami tentang cerpen yang ditulisnya. Selain itu, dia juga aktif menuliskan lirik lagu bernuansa religious.

Beberapa buku yang ditulis di antaranya:

Assalamualaikum, Beijing! Salon Kepribadian, Derai Sunyi (sempat mendapat penghargaan Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) Preh (A Waiting), Cinta Tak Pernah Menari (kumpulan cerpen yang meraih Pena Award), Rembulan di Mata Ibu (2001) (sempat memenangkan penghargaan Adikarya IKAPI sebagai buku remaja terbaik nasional), Dialog Dua Layar (sempat memenangkan penghargaan Adikarya IKAPI, 2002), 101 Dating: Jo dan Kas (meraih penghargaan Adikarya IKAPI, 2005), Non Fiksi: Jangan Jadi Muslimah Nyebelin!, cerita Emak Ingin Naik Haji: Cinta Hingga Tanah Suci (pernah disulap menjadi film Emak Ingin Naik Haji dan sinetron Emak Ijah Pengen ke Mekah), Jilbab Traveler, Muhasabah Cinta Seorang Istri, Catatan Hati Bunda, Jendela Rara telah diadaptasi menjadi film yang berjudul Rumah Tanpa Jendela

Catatan Hati Seorang Istri (pernah diadaptasi menjadi sinetron Catatan Hati Seorang Istri yang ditayangkan RCTI), Serial Aisyah Putri yang diadaptasi menjadi sinetron Aisyah Putri The Series: Jilbab In Love:, Aisyah Putri: Operasi Milenia, Aisyah Putri: Chat On-Line!, Aisyah Putri: Mr. Penyair, Aisyah Putri: Teror Jelangkung Keren, Aisyah Putri: Hidayah Buat Sang Bodyguard, Aisyah Putri: My Pinky Moments.

Selain itu beberapa karya yang ditulis bersama penulis lain: buku non fiksi The Jilbab Traveler, Jangan Bercerai Bunda, Catatan Hati Ibunda (curahan dari para bunda yang curhat di salah satu sosialmedia miliknya), buku non fiksi La Tahzan for Hijabers, Ketika Penulis Jatuh Cinta, Kisah Kasih dari Negeri Pengantin, Jilbab Pertamaku, Miss Right Where R U?, Suka Duka dan Tips Jadi Jomblo Beriman, Jatuh Bangun Cintaku, Gara-gara Jilbabku, Galz Please Don’t Cry, The Real Dezperate Housewives, Ketika Aa Menikah Lagi, Karenamu Aku Cemburu, lalu juga Catatan Hati di Setiap Sujudku, Badman: Bidin, Suparman Pulang Kampung, Pura-Pura Ninja, Mengejar-ngejar Mimpi, Dikejar-kejar Mimpi, Gara-gara Indonesia, dan Diary Doa Aisyah Putri

Disetiap buku, ia selalu memasuki nilai-nila islam. Itu karena sejak awal, Asma ingin sekali berdakwah melalui tulisan-tulisannya. Mungkin, penulis yang ingin berdakwah melalui tulisan banyak. Tapi yang menarik dari Asma Nadia yakni, ketika tulisan tersebut disukai banyak orang yang akhirnya menjadi best seller. Jaman yang saat ini serba liberal, hedonism, sepertinya hal yang sulit buku bertema islam disukai. Lewat tulisan di status dan tweetnya, Asma juga memberikan hal-hal islami.

Tirulah penulis Asma Nadia (dan mungkin penulis islam lainnya), yang selalu memberikan hikmah yang mengandung nilai kebaikan di setiap tulisan dan bagaimana cara beliau menulis agar tulisannya banyak disukai orang. Sebab, sedikit banyak tulisan dapat mempengaruhi pembaca. Entah itu menginspirasi, mengubah perilaku, dls. Jika dapat memberikan sesuatu yang baik, maka kebaikan pula yang didapat. Tapi, jika justru malah sesuatu yang buruk, maka keburukan yang kita dapat. Sebab apa yang kita tuai akan sesuai dengan apa yang kita tanam.

Jika ingin menjadi penulis, jadilah penulis yang berkualitas. Memberikan tulisan-tulisan yang mendidik. Menebar nilai yang baik bagi pembaca. Semoga, bagi siapa saja yang ingin jadi penulis, bisa jadi penulis yang tulisan-tulisannya sangat mendidik dan memberikan contoh yang baik bagi pembacanya.

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Comments

comments

To Top