Career Tips

Mengapa HRD Menjadi Musuh Karyawan?

Mengapa HRD Menjadi Musuh Karyawan? Banyak karyawan perusahaan, terlebih yang berposisi sebagai buruh pabrik berpendapat demikian. Membahas tentang HRD atau divisi sumber daya manusia di sebuah instansi atau perusahaan, akan seringkali dihubungkan dengan urusan karyawan dan seluk beluknya. Setiap jenis posisi atau jabatan pasti memiliki value dan tantangan tersendiri dalam menjalaninya, karena akan menghadapi banyak karyawa dari berbagai divisi atau departemen, yang tentunya memiliki karakter yang beragam pula. Tetapi sebagai seorang yang berposisi sebagai HRD atau staf tim di dalamnya, hendaknya harus memiliki kacamata dengan sudut pandang yang berbeda untuk melihat karyawan dibandingkan manajer yang lain.

sponsor: pemutih wajah.

Anggapan bahwa HRD menjadi musuh karyawan diperoleh dari kesan bahwa HRD berposisi seperti “polisi” karyawan, yang tugasnya mengawasi, menerima aduan, pelanggaran, tuntutan, lalu dilanjutkan dengan follow up untuk melakukan tindakan penertiban, agar tidak menjadi masalah yang semakin meluas dan berlarut-larut.

HRD Menjadi Musuh Karyawan

Meskipun demikian, HRD hendaknya bisa menengahi berbagai masalah yang berhubungan antara kepentingan karyawan dan perusahaan, sehingga memberikan solusi yang tidak berat sebelah. Namun itu semua memang tidak mudah, sebaik-baik suatu keputusan, HRD sendiri juga merupakan suatu posisi pekerjaan yang juga tidak jauh dibilang sebagai karyawan. HRD juga harus bertanggung jawab langsung kepada perusahaan. Jadi apapun keputusannya, tidak akan mungkin memberikan keputusan yang merugikan kepada perusahaan dimana seorang HRD tersebut bekerja. Hal inilah yang kemudian menjadikan HRD bisa menjadi sasaran umpatan atau menjadi “musuh bersama”, bila ada kebijakan perusahaan yang merugikan karyawan, meskipun keputusan tersebut tidak diinginkan berdasarkan hati nuraninya.

Mengapa HRD menjadi musuh karyawan, pertanyaan ini ada, karena berhubungan pula dengan tugas HRD pada suatu perusahaan dikenal sebagai “personalia”, yang pekerjaaannya berkisar pada pemberian gaji, tunjangan kesehatan, pembagian bonus, absensi, cuti, bimbingan dan konsultasi, kedisiplinan, pemberian sanksi terhadap pelanggaran dan tugas kepegawaian lainnya, hingga keputusan tentang pemutusan hubungan kerja. Semua urusan tersebut secara langsung dan tidak langsung pasti akan berbenturan dengan karyawan pada umumnya. Jika banyak keputusan dianggap banyak merugikan karyawan, maka HRD lah yang banyak berperan langsung turun berhadapan dengan karyawan perusahaan. Terlepas, posisi HRD juga sebagai karyawan perusahaan, ada pula yang memberikan istilah bahwa posisi HRD dianggap “mata-mata” atau “kaki tangan” pemilik perusahaan, yang hanya memikirkan kepentingan perusahaan tanpa melihat sisi karyawan.

Anggapan bahwa HRD sebagai musuh mungkin tidak sepenuhnya bisa hilang begitu saja, namun harus diminimalkan. Caranya pun tidak mudah, harus ada korelasi antara perusahaan, karyawan, HRD dan manajer-manajer lainnya. Pada konsep yang baru, HRD mestinya bisa dibedakan dengan bagian Personalia. Fungsi dan tugas HRD fokus pada pengembangan kemampuan dan pemberdayaan SDM, bagaimana meningkatkan kontribusi SDM terhadap pencapaian tujuan organisasi. Urusan kepegawaian sehari-hari di lapangan mestinya ditangani sendiri oleh para atasan pada bagian masing-masing. Hal ini karena fungsi personalia mesti melekat di semua manajer. Setiap manajer memiliki tanggung jawab secara organisasi terhadap bawahannya, baik mengenai pengaturan kerja (termasuk supervisi), kinerja, bimbingan dan konsultasi, attitude, termasuk dalam hal pengajuan remunerasi. Fungsi inilah yang disebut man manage (mengatur orang). Dan karena fungsi inilah maka mereka disebut manager.

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Comments

comments

To Top