Entertaiment

Memahami Perbedaan Pola Pikir Konvergen dan Divergen

Seorang psikolog bernama J.P. Guilford membagi proses berpikir manusia menjadi dua jenis: divergen dan konvergen. Kedua istilah ini kali pertama dicetuskan oleh dirinya tahun 1956. Apa perbedaan pola pikir konvergen dan divergen? Bagaimana perannya dalam aktivitas manusia?

Apa perbedaan pola pikir konvergen dan divergen

Sponsor: perawatan wajah

Perbedaan mendasar dari keduanya: divergen sebagai idea generation; konvergen sebagai idea analysis. Atau biasa kita kenal dengan otak kanan dan otak kiri. Orang-orang dengan pola pikir divergen mampu menghasilkan atau memproduksi ide-ide baru. Divergen sraing dikaitkan dengan kreativitas. Sedangkan orang-orang dengan tipe berpikir konvergen, mereka punya keahlian menganalisis ide. Konvergen keran dikaitkan dengan kemampuannya problem-solving secara tepat.

Masih banyak dari kita yang salah kaprah dalam memandang pola pikir konvergen dan divergen. Di mana dua pola pikir ini ini sifatnya tidak saling berkompetisi atau malah konflik satu sama lain. Bahwa keduanya saling menguntungkan. Keduanya saling melengkapi, terutama dalam sebuah proses inovasi. Karena proses menyelesaikan masalah, membuat inovasi, menerapkan ide pun harus melibatkan kedua tipe berpikir.

Supaya semakin jelas, mari kita simak definisi masing-masing pola pikir.

Pola Pikir Konvergen

Sedikit berbeda dengan jenis divergen, pola pikir konvergen yakni teknik penyelesaian masalah (problem-solving) dengan menyatukan ide atau solusi yang berbeda untuk menemukan satu solusi. Fokus dari pola pikir ini adalah kecepatan dalam menyelesaikan masalah, mengumpulkan infromasi, logika dan akurasi dalam identifikasi fakta. Selalu menerapkan kembali teknik yang sudah ada.

Berbeda lagi dengan divergen, faktor terpenting dari pola pikir ini ialah hanya ada satu jawaban benar. Mereka (para pola pikir konvergen) hanya memikirkan dua jawaban, yaitu benar atau salah. Tipe berpikir ini berkutat dengan ilmu pengetahuan tertentu atau prosedur-prosedur standar.

Itu mengapa orang-orang dengan pola berpikir tipe konvergen mempunyai alur berpikir logis, pandai menghafal pola, cepat menyelesaikan masalah dan pintar mengerjakan tes ilmu pengetahuan. Satu cara mengasah pola pikir konvergen yaitu mengerjakan tugas mata pelajaran di sekolah.

Pola Pikir Divergen                         

Karakteristik dari pola berpikir divergen adalah kemampuan memberikan pilihan ide dan solusi. Cenderung ide-ide atau solusi-solusi tersebut mengalir secara spontan begitu saja. Aktivitas yang menggunakan pola berpikir divergen yaitu brainstorming dan menulis bebas. Berarti rata-rata penulis mempunyai pola pikir divergen yang bagus.

Ada delapan elemen pola berpikir divergen:

Orisinalitas: kemampuan mencetuskan ide segar yang unik, tidak biasa, sedikit berbeda, atau bahkan belum pernah ada sebelumnya.

Elaborasi: kemampuan menambahkan atau membangun produk atau ide. Kadang pula mengolaborasikan beberapa ide.

Fleksibilitas: kemampuan dalam menciptakan persepsi dalam beragam ide.

Kompleksitas: mampu membuat produk atau ide yang sulit atau multi-layer secara konseptual. Sebab divergen bisa berpikir sesuatu yang sedikit rumit.

Keingintahuan: adalah investigatif, tangkas dalam mencari tahu atau bertanya, mudah belajar agar mendapa ilmu atau informasi, dan punya kemampuan menggali ide lebih dalam

Kefasihan: mampun menciptakan beragam ide dengan memperkaya banyak solusi yang sitawarkan.

Imajinasi: kemampuan menemukan, memikirkan, membayangkan, melihat, dan mengkonsepkan produk atau ide yang orisinal.

Pengambilan resiko: memiliki sifat berani. Mudah tertantang terhadap hal-hal baru. Menyukai berpetualang – mengambil resiko atau bereksperimen dengan sesuatu yang baru.

Orang-orang yang mempunyai pola pikir divergen kerap dianggap sebagai orang yang punya rasa ingin tahu besar, suka kebebasan, gigih, dan selalu siap mengambil resiko.

Kebiasaan yang khas dari pola pikir ini yaitu memetakan dengan menggambar lingkaran. Juga menciptakan karya seni, menyusun sebuah jurnal, memetakan pokok pembicaraan, meluangkan waktu untuk meditasi serta berpikir, menyusun daftar pertanyaan merupakan beberapa karakteristik lainnya yang terlihat. Orang-orang dengan pola pikir divergen pula cenderung lebih unggul dalam bahasa seperti membaca, menghafal kata, dan menulis bebas.

Kedudukan Konvergen dan Divergen

Sebetulnya ada sebuah penelitian yang membuktikan bahwa proses kreatif melibatkan kedua tipe proses berpikir—konvergen dan divergen. Namun para peneliti tidak menyarankan untuk menyatukan kedua proses dalam satu sesi.

Contoh kasus selama 30 menit ke depan, Anda mengajak semua orang dalam tim Anda untuk aktivitas yang melibatkan pola berpikir divergen seperti brainstorming menciptakan ide-ide baru, menggali solusi, mengolaborasikan berbagai ide, dan selainnya. Dalam 30 menit tersebut, semua ide sebaiknya hanya dicatat. Jangan dihakimi, misal dengan mengatakan bahwa sebuah ide tidak relevan karena tidak sesuai dengan kondisi, tidak sesuai dengan kemampuan, dan lain-lain. Sesudah seluruh ide tertuang, barulah masuk ke sesi berikutnya, yakni tahapan yang melibatkan pola berpikir konvergen seperti analisa dan pengambilan keputusan.

Berdasarkan hasil penelitian pula, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan kreatif menyebabkan mood berubah-ubah. Sebab memang kedua tipe berpikir ini menimbulkan dua mood yang berbeda. Pola berpikir divergen menciptakan mood positif, sedangkan pola berpikir konvergen menciptakan mood negative.

Tahun 1988 seorang peneliti bernama J.A. Horne mengungkap bahwa kurangnya waktu tidur akan sangat memengaruhi kinerja orang-orang yang berpikir pola divergen, sementara orang-orang dengan pola pikir konvergen akan cenderung tidak berpengaruh (baik-baik saja).

Nah, anda termasik cara pikir yang manakah? Tentunya apapun itu, hendaknya gunakan dengan bijak talenta Anda. Jangan lupa latihlah kedua tipe berpikir tersebut untuk dapat menggunakannya dengan seimbang di saat-saat yang tepat.

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Comments

comments

To Top