Inspiration

Inspirasi Dari Kisah Seorang Anak Tanpa Kepandaian: Hargai Apa yang Kita Punya

Selama ini mungkin tanpa disadari sebagai orang tua sering kali kurang bersyukur atas apa yang dipunya oleh sang anak. Kita kerap memaksa keinginan pada anak, tanpa menanyakan apa yang mereka bisa. Misal, anak tidak memiliki kepandaian akademis, namun berbakat di non akademis. Begitu saja kita mudah sekali mencap mereka adalah anak yang bodoh. Padahal itu tidak dibenarkan. Tuhan sudah memberi anak anugerah berbeda. Berikut ialah kisah seorang anak tanpa kepandaian akademis, tetapi punya kelebihan di bidang selainnya. Cerita ini akan mengajarkan untuk menghargai apa yang kita punya

Menghargai apa yang kita punya

Sponsor:kezia skin expert

  1. FORREST GUMP

Forrest Gump merupakan drama asal Amerika Serikat tahun 1994 yang mengadaptasi dari novel karya Winston Groom (1986).

Forrest Gump menceritakan seorang anak bernama Forrest. Ia tidak terlalu pintar dan sedikit idiot. Namun meskipun  dalam kepandaian terbatas, Forrest mempunyai ibu yang sangat menyayangi dan memperhatikannya. Sebab kehadiran ibunya tersebut Forrest bisa menjalani kehidupannya dengan cukup mengesankan. Sang ibu merawat anaknya dengan penuh kasih sayang. Tidak pernah mengeluas atas kondisi Forrest.

Bukan itu saja, ketika Forrest kecil selain idiot dia juga mengalami kesulitan berjalan. Sehingga dengan terpaksa dia harus menggunakan penyangga kaki agar bisa berjalan. Karena kekurangan-kekurangannya yang dimiliki, Forrest menjadi bahan permainan. Tak jarang dirinya dikucilkan oleh teman-temannya. Tetapi, ada satu teman kecilnya yang mau berteman. Ia adalah Jenny, perempuan baik hati. Mereka akhirnya menjadi kawan dekat ketika kecil.

Meskipun Forrest memiliki IQ rendah serta keterbatasan fisik, ternyata dia mempunyai kemampuan lari sangat cepat. Kelebihannya tersebut sangat bermanfaat bagi kehidupan karirinya. Setelah lulus kuliah ia mendaftarkan diri ke militer lalu dikirim ke Vietnam. Forrest menjadi orang yang berjasa dalam peletonnya. Dengan kemampuan lari cepat dirinya menjadi penyelamat banyak tentara dan komandannya. Atas jasanya itu ia mendapat pernghargaan Medali Kehormatan Kongres.

Suatu hari dia tertembak. Saat penyembuhan luka tembak, Forrest kembali menemukan bakat bermain pingpong. Alhasil dia menjadi atlet pingpong terkenal, kemudia mewakili negaranya dalam ajang internasional melawan Tiongkok. Tak hanya itu, dirinya sempat diajak gabung untuk berbisnis udang bersama teman negronya selama di militer. Ia pun meraih kesuksesan di bisnisnya itu.

Dasi sosok Forres Gump mengingatkan pada kita bahwa setiap orang memiliki kelebihan terpendam. Selama ini kita sering memandang sebelah mata terhadap orang-orang yang secara fisik terbatas. Padahal kita pasti mempunyai kekurangan dan kelebihan. Kita selalau menganggap orang lemah, padahal diri kita sendiri pun ada kelemahannya.

Barangkali anda sendiri yang kerap merasa tidak punya kelebihan, ingatlah sosok forrest ini. Bahwa kelebihan manusia perlu dicari. Jangan terus merasa rendah diri, tetapi galilah terus potensi dalam diri.

  1. I’m not Stupid too

Film I’m not stupid bercerita tentang 2 keluarga yang berbeda. Keluarga pertama adalah keluarga Jerry yang terdiri dari ayah, ibu, dan kakaknya, Tom Yeo. Sementara keluarga kedua yakni keluarga Chengcai—teman Tom Yeo. Orang tua Jerry dan Tom selalu mengekang. Ibunya saja adalah seorang yang otoriter dalam menerapkan disiplin pada kedua anaknya. Sang ibu menginginkan anak-anaknya mendapat nilai sekolah yang tinggi, agar kelak menjadi orang sukses. Namun kerap meremehkan prestasi non akademik. Ia menganggap masalah prestasi non akademik itu nomor sekian. Sedangkan Tom terkenal sebagai blogger yang berbakat. Sayangnya sang ibu tidak mau mengakui dan menghargai bakat Tom.

Sementara adik Tom, memiliki bakat acting. Guru meminta Jerry untuk bermain drama. Jerry mendapat peran utama dalam drama musikal di seolahnya. Ia pun diminta untuk mengundang kedua orangtuanya menonton pementasan drama yang akan ia lakoni. Namun Jerry bingung memberi jawaban, melihat kedua orangtuanya sangat sibuk bekerja. Pasti kecil kemungkinan bagi Jerry membujuk orangtuanya untuk menonton drama pementasannya.

Bisa dibilang keluarga Tom tidak harmonis. Tidak ada hubungan baik dengan kedua orang tua pun dengan adiknya, Jerry. Mereka berkomunikasi melalui secarik kertas yang di tempel di pintu lemari es. Itupun jarang terbaca oleh orang tua mereka. Ayah dan ibu sibuk bekerja. Pernah suatu saat Jerry meminta tolong untuk diajarkan tugas matematika, namun sang ayah malah memarahinya dan mengatakan bodoh pada Jerry.

Apa yang dialakukan Jerry dan Tom rasanya tidak pernah benar. Di moment hari ayah, Jerry membelikan hadiah sebuah alat cukur, tetapi malah dimarahi sang ibu karena dianggap buang-buang uang saja.

Lain lagi dengan keluarga Chengcai. Mereka hanya beranggotakan ayah dan anak. Mereka tergolong keluarga yang hidupnya pas-pasan. Chengcai sendiri adalah teman satu kelas Tom Yeo dan ayah Chengcai ialag seorang mantan narapidana. Tetapi sang ayah termasuk seorang pekerja keras. Mirip dengan orangtua Tom dan Jerry, ayah Chengcai bernama pak Lim tidak menghargai bakat non akademik. Dia tidak menganggap keahlian Chengcai dalam bidang beladiri. Malah mengatakan bahwa belajar beladiri hanya buang waktu.

Suatu hari Chengcai dan Tom terlibat perkelahian dengan seorang guru. Chengcai di keluarkan sedangkan Tom dicambuk di depan siswa-siswi sekolah. Kasus ini masuk berita sehingga membuat ibu Tom malu lalu mengundurkan diri dari editor di sebuah majalah ternama. Sang guru pun ingin mengundurkan diri karena malu. Namun hal tersebut dicegah oleh kepala sekolah. Akhirnya guru tersebut sadar dan mulai mau memahami para siswanya.

Sedangkan Chengcai dan Tom menjadi anak nakal—bersama Chengcai. Sang ayah coba membujuk Tom untuk berubah namun ia bersih keras tidak mau dan mencoba mengungkapkan kekesalah pada ayahnya selama ini. Hingga akhirnya di ending cerita, ayah chengcai meninggal serta chengcai kembali masuk sekolah sebab mempunyai bakat bela diri. Dan keluarga Tom menjadi harmonis kembali.

Film ini mengajarkan bahwa syukuri apa yang kita punya, hargai apa yang dipunya orang lain. Khusunya bagi para orang tua yang biasanya suka memaksa kehendak pada anak. Padahal sebetulnya anak memiliki anugrah luar biasa—yang bisa saja di luar keinginan. Hendaknya syukuri pemberian Tuhan tersebut.

 

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Comments

comments

To Top