Travelling

Yuk intip geliat kampung pecinan surabaya

Di surabaya, selain dikenal sebagi kota yang sibuk, panas, penuh gedung pencakar langin, kota pahlawan ini juga di kenal dengan kemajemukan para warganya. Warga surabaya bisa dikatakan sebagai warga yang majemuk berbagai macam agama dan keturunan semua ada di surabaya. mulai dari agama islam, kristen, hindu, budha semua ada di sini, saling menghormati satu sama lainnya. Begitu pula berdasarkan keturunan, ada yang dari suku jawa, madura, arab, ambon, hingga china. Uniknya mereka berkumpul dalam satu daerah membentuk sebua kampung yang berisikan beberapa KK berketurunan sama. Misalnya seperti kampung arab di dekat masjid agung ampel, dan juga kampung pecinan. Nah kali ini kita akan menginip geliat kampung pecinan surabaya.

geliat kampung pecinan surabaya

Sponsor cream perawatan wajah

Dalam sejarah, Indonesia memang tidak bisa dipisahkan dengan warga keturunan China. Bahkan beberapa teori menyatakan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, salah daerah di China. Jejak-jejak kehidupan warga keturunan China di masa lampau tersebar di berbagai kota di Indonesia. Menjadi saksi sejarah eratnya hubungan Indonesia dan China. Salah satu bukti sejarah tersebut ada di Surabaya, tepatnya di kampung pecinan.

Sesuai dengan namanya, dinamakan kampung pecinan karena mayoritas penduduk di kampung ini merupakan keturunan Tionghoa. Kampung-kampung pecinan di surabaya telah terbentuk semenjak ratusan tahun silam ketika sekelompok warga keturunan Tionghoa datang ke Surabaya. Mereka datang ke Surabaya tidak hanya membawa sanak saudara melainkan juga membawa adat istiadat, tradisi, budaya, serta agama.

Perkampungan pecinan ini tersebar di wilayah Surabaya Barat seperti di kawasan Karet, Waspada, Kapasan, Slompretan, dan Kembang Jepun. Kampung pecinan yang pertama kali terbentuk ada di kawasan Karet, yang dulu bernama Chinesche Voorstraat atau Pecinan Kulon tepatnya di tepi sungai Kalimas. Pilihan tempat yang menghadap sungai Kalimas ini dipercaya membawa keberuntungan. Oleh karena itu memilih lokasi ini sebagai tempat bermukim.

Hingga kini denyut nadi kehidupan kampung pecinan masih terasa meski tidak seramai dulu. Dulu di masa kejayaannya, kampung pecinan merupakan pusat perdagangan terbesar dan teramai di Surabaya. Salah satunya adalah kawasan Kembang Jepun. Nama kembang Jepun sendiri diberikan pada kawasan tersebut karena saat itu wilayah tersebut tengah dikuasai oleh tentara Jepang ketika warga Tionghoa berekspansi ke sana. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan wanita-wanita penghibur yang disebut sebagai kembang bagi para tentara Jepang. Sedangkan kata Jepun merupakan sebutan untuk Jepang di wilayah tersebut.

Namun seiringi berjalannya waktu, nama kawasan Kembang Jepun sebagai pusat hiburan di Surabaya mulai tergeser dengan bermunculan tempat-tempat hiburan lain di Surabaya. meskipun tidak lagi seramai masa lampau, namun bukti-bukti kejayaan Kawasan Kembang Jepun masih bisa dirasakan. Salah satunya dari gerbang ikonik kawasan Kembang Jepun yang masih berdiri kokoh. Gerbang dengan patung dua naga saling berhadapan di atasnya serta tulisan Kya-Kya menjadi simbol kejayaan yang pernah diraih oleh kawasan ini. Hingga kini, kita bisa menikmati nuansa khas China di sepanjang jalan Kembang Jepun. Karena Pemerintah Kota Surabaya telah menetapkan kawasan ini beserta bangunan yang berdiri di sepanjang jalan menjadi cagar budaya yang harus dijaga kelestariannya. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan Kembang Jepun pun masih mempertahankan arsitektur khas China dengan oramen-ornamen dan beberapa tulisan huruf mandarin sebagai hiasannya.

Selain itu tradisi khas masyarakat Tionghoa pun masih tetap dijaga kelestariannya di kawasan kampung pecinan. Apalagi ketika mendekati momen Imlek, berbagai macam tradisi peribadatan akan dapat kita jumpai. Salah satunya di kelenteng tua yang bernama Hok An Kiong atau kelenteng Dewa Mazu. Hingga kini kelenteng yang telah berusia ratusan tahun itu masih menjadi pusat peribadatan warga keturunan Tionghoa ketika Imlek tiba. Wajah kampung pecinan pun akan dihiasi oleh lampion-lampion berwarna merah di pelataran rumah mereka. Mereka juga biasanya akan menggelar tradisi tuanyuan atau makan-makan bersama dengan keluarga serta tradisi Bai Nian atau berkunjung ke rumah sanak saudara serta saling berbagi angpao persis seperti tradisi umat islam ketika Hari Raya Idul Fitri tiba.

Meski terhimpit modernitas Kota Surabaya, warga kampung pecinan tetap berusaha melestarikan tradisi dan adat istiadatnya. Pemerintah Kota Surabaya pun turut andil dalam upaya menghidupkan kembali geliat kampung pecinan dengan mengadakan berbagai event di sana. Seperti salah satunya adalah kegiatan Festival Rujak Uleg yang termasuk dalam rankaian perayaan Hari Jadi Kota Surabaya di kawasan Kembang Jepun Surabaya. semua event-event yang diadakan oleh pemkot surabaya cukup sukses membuat kampung pecinan khususnya di jalan kembang jepun yang mulai kembali ramai oleh pengunjung.

Nah itulah kampung pecinan yang ada di surabaya, meskipun sebenarnya kampung pecinan ada beberapa tempat di surabaya, namun yang paling terkenal ada di jalan kembang jepun surabaya. nah daripada liburan kita habiskan waktu di mall dan pusat perbelanjaan akan jauh lebih menarik kita mengunjungi jalan kembang jepun surabaya. selain bisa jalan-jalan, kita juga bisa belajar tentang sejarah denyut nadi kehidupan kawasan kembang jepun di masa lampau yang menjadi salah satu tempat hiburan terbesar di surabaya.

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Comments

comments

To Top
$(window).load(function() { // The slider being synced must be initialized first $('.post-gallery-bot').flexslider({ animation: "slide", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, itemWidth: 80, itemMargin: 10, asNavFor: '.post-gallery-top' }); $('.post-gallery-top').flexslider({ animation: "fade", controlNav: false, animationLoop: true, slideshow: false, prevText: "<", nextText: ">", sync: ".post-gallery-bot" }); }); });