Motivation

Pelajaran dari Film Coach Carter: Semua Orang Pasti Bisa

Apa yang akan kau lakukan seandainya menjadi pelatih, tetapi murid-murid tidak memiliki kemampuan lebih? Ada dua pilihan: mencari anak didik yang punya kemampuan lebih; tetap mendidik sampai mampu. Namun kebanyakan pelatih memilih pilihan pertama. Padahal, semua orang pasti bisa. Orang bisa sebelumnya adalah orang yang tidak bisa. Lalu kenapa harus menyerah lebih dulu?

Semua orang pasti bisa

Sponsor: pemutih wajah

Mau tidak mau ini telah menjadi wajah pendidikan di tanah air. Walaupun tidak semua pendidik begitu, kami yakin. Namun ada pula yang demikian, ini tidak bisa diingkari. Para pendidik lebih memilih murid pandai; yang kurang pandai tidak diacuhkan. Murid pandai sering disanjung; yang tidak jarang diberi semangat, malah sering dimarahi.

Tentu saja memarahi anak yang tidak bisa bukanlah perilaku bijak. Sebab semua murid—baik pandai maupun kurang—memiliki hak sama: dilatih. Dan melatih adalah bagian tanggung jawab dari seorang pendidik. Melatih daru yang tidak mampu menjadi mampu melakukan sesuatu, mengajarkan sebuah moral baik, dan masih banyak lagi.

Berbahagialan bagi mereka para pendidik yang tidak pilah-pilah murid. Yang mau mengajar di seluruh pelosok daerah, bertemu dengan anak-anak pedalaman. Mereka harus mengajar mulai dari nol dengan penuh komitmen dan sudah pasti kesabaran. Kalau akhirnnya anak-anak tersebut menjadi orang hebat, maka kebermaknaan yang didapat. Itulah kebahagiaan seorang pendidik.

Film yang satu ini dapat menjadi sebuah film yang patut diambil pelajaran oleh seorang pendidik. Tentang kesabaran,  keteguhan akan memegang prinsip, serta ketegasan dalam memimpin maupun mendidik.  Adalah film Coach Carter. Kisah seorang pelatih yang mencoba mendidik tim basket kurang kemampuan.

Sinopsis (diambil dari blog pribadi milik Ekky Gusti Prasetya)

Film ini diadaptasi dari kisah nyata. Menceritakan kisah seorang yang bernama Carter—diperankan oleh samuel L. Jackson—bersedia  menjadi pelatih sebuah tim basket. Tim basket tersebut bukan tim biasa. Tim itu hanya menang empat kali pada musim lalu. Mereka adalah tim basket sebuah SMA di kota Richmond. Ceritanya pada film itu Richmond Highschool bukan sekolah unggulan. Hampir setiap tahun hanya sekitar 50% siswanya yang lulus, dan itupun dari yang lulus hanya sedikit yang masuk ke Universitas. Juga dengan anak-anak yang tergabung dalam tim basket tidak memiliki prestasi akademik yang baik.

Hari pertama Carter bertugas sebagai pelatih, ia langsung membuat perjanjian dengan anak-anak di tim basket yang akan dilatih. Inti dari perjanjian tersebut adalah agar bisa menjadi anggota tim basket, anak-anak harus punyaprestasi belajar yang baik  dengan nilai SAT 2,3—meski yang ditetapkan sekolah hanya 2,00—mematuhi semua aturan yang ditetapkan pelatih termasuk untuk datang tepat waktu, hadir pada tiap kelas yang diikuti dan duduk di barisan paling depan serta terakhir mengenakan jas dan berdasi. Sementara dalam kontrak mengenai prestasi yang akan diukir, coach Carter berjanji mencurahkan segala yang dia bisa lakukan untuk tim basket tersebut. Dirinya juga yakin bahwa tim tersebut dapat meraih kemenangan. Bahkan Coach Carter meminta laporan studi anggota tim-nya dari semua guru.

Mengenai aturan yang dibuat coach carter sudah pasti tidak semua anak menerima aturan tersebut Malah ada beberapa yang langsung mengundurkan diri. Lebih-lebih di antara yang mengundurkan diri termasuk anak-anak berprestasi, yang telah mencetak skor terbanyak pada setiap pertandingan. Namun coach Carter tidak peduli. Syarat supaya mereka tetap tergabung dalam tim basket yakni setuju dengan isi perjanjian yang sudah diputuskan.

Singkat cerita, sesuai perjanjian coach Carter melatih mereka dengan penuh disiplin dan konsisten dengan aturan yang telah disepakati. Berkat latihan dan teknik yang diajarkan coach Carter, pada 16 kali pertandingan, tim yang sama sekali tidak diungulkan ini berhasil meraih kemenangan.

Ketika Coach Carter mempersiapkan pertandingan yang ke 17, dia menerima laporan bahwa prestasi belajar sebagian besar anggota tim basket mengalami penurunan pesat. Langsung saja coach Carter membuat keputusan untuk menghentikan latihan. Lalu menutup gedung olahraga dan memindahkan latihannya ke perpustakaan. Dia mengumumkan tidak akan memulai latihan apabila nilai anggota tim yang jelek belum memenuhi standar. Ini semua sesuai perjanjian awal.

Namun rupanya apa yang dilakukan oleh coach Carter telah membuat heboh sekolah bahkan seisi kota. Mereka mencelanya. Tempat binis milik coah juga sampai dilempari oleh orang tidak dikenal, yang ingin ia segera membuka kembali tempat latihan. Akan tetapi itu semua tak dihiraukan. Keteguhan prinsip demi masa depan terbaik anak-anak asuhnya tak membuat dirinya menyerah. Seperti yang kerap disebut bahwa mereka adalah pelajar olahraga. Jadi didahulukan adalah pelajarnya bukan olahraganya.

Akhir cerita: seuruh anak asuhnya mendapatkan nilai sesuai standart. Ketika mereka kembali bertanding, mereka mampu menuju babak final tingkan nasional. Walaupun hanya dapat kejuaraan tingkat runner up tapi perjuangan Coach Carter tidak sia-sia. Malahan beberapa anak asuhnya mendapat bea siswa dan kuliah. Bagi coach Carter itua adalah kemenangan sejati bagi seorang pelatih.

Dari film di atas bisa menjadi contoh bahwa seharusnya menjadi seorang pendidik memiliki tingkat kesabaran ekstra selama memberi pelatihan. Bukan malah memilih anak yang telah pandai kemudian tidak mau melatih anak yang kurang pandai. Kalau kamu seorang pendidik, kami rasa film ini bisa menjadi panutan untuk terus mengajar dengan sepenuh hati.

 Serta menjadi motivasi bahwa semua orang pasti bisa jikalau mau berlatih keras.

0
0%
like
0
0%
love
0
0%
haha
0
0%
wow
0
0%
sad
0
0%
angry

Comments

comments

To Top